Idul Fitri, Mudik, dan Macet


Kejadiannya setiap tahun sama, kan? Well, mirip mungkin kalau dilihat dari angka-angkanya. Tapi bagi saya, sama: Idul Fitri, mudik, dan macet – tiga serangkai yang selalu terjadi setiap tahun. 

Tahun ini tampaknya kejadiannya lebih parah daripada tahun yang lalu. 20 – 30 jam macet di satu titik? Sungguh mengerikan! Kehabisan bensin, tak mandi, buang air di mana, makan apa saja yang ada … Masih bisakah dianggap sebagai romantika?

Ingin aku membongkar tradisi. Tak perlu mudik! Pasti tak akan ada macet!

Tapi siapa aku? Tradisi adalah kekuatan maha dahsyat yang tak mungkin dilawan. Ia mampu mengendalikan orang-orang seperti remote control mengendalikan robot atau mobil mainan. Rasio, pengalaman empiris, dan analisa sungguh tak ada daya.

Tapi, hei! Ini bukan salah tradisi juga! 

Mudik adalah air bah yang tumpah ruah dari bendungan-bendungan bernama kota. Ia seperti banjir yang datang setiap musim hujan. Apakah musim dan hujan dapat kita salahkan?

Tentu kita tak dapat menyalahkan musim yang memang seharusnya bergulir, atau hujan yang sudah waktunya datang, bukan? Tapi kita tahu apa yang perlu kita lakukan untuk menyambutnya: membuat, memperbaiki, membersihkan saluran air, bendungan, dan sungai agar air yang datang bisa menjadi rahmat dan bukan justru bencana.

Aku pikir seharusnya  mudik pun diperlakukan seperti itu, bisa dihitung. Apalagi kejadiannya berulang dan berpola setiap tahun. Berapa kapasitas bendungan? Berapa kapasitas jalan-jalan air yang bisa menampung luapannya? Berapa jumlah mobil dan motor di kota? Berapa persen yang kira-kira akan keluar dan dalam masa berapa hari? Manage that! Bikin regulasi, atur. Aku kira bisa. Paling tidak, diantisipasi lah biar tidak sampai menimbulkan bencana dan kesusahan.

Perbaiki transportasi umum, batasi penjualan mobil dan sepeda motor, perbaiki dan perbanyak jalan … Saya kira bisa dilakukan. Kadang-kadang rumit dan agak sulit memang, karena kepentingan-kepentingan yang mendapat keuntungan dari buruknya transportasi umum tentu tak mau kehilangan keuntungan itu begitu saja. Tapi kalau ada banyak negara yang sudah bisa melakukannya, kenapa kita tidak? Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan, bukan?

Bukan? Aaah ….

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s