Dua Wajah Manusia


Saya dibesarkan di lingkungan keluarga dan masyarakat yang menghormati tetua, guru dan alim ulama. Bagi saya, menghormati orang tua, orang yang dituakan, cerdik cendekia dan guru sudah menjadi second nature. Namun itu tidak berarti bahwa saya tidak bisa kritis atau skeptis. Di balik sikap civil saya, saya termasuk orang yang tidak bisa begitu saja percaya bahwa orang bisa selamanya benar atau seratus persen baik dan tak bercela. Tidak ada manusia yang seperti itu.

Alim ulama, habib, ajengan, kyai, ustad, profesor, motivator, atau guru bisa saja salah dan khilaf. Mereka juga manusia, dan selama mereka masih menjadi manusia, kedudukan mereka adalah antara malaikat dan iblis. Ini soal degree atau derajat saja. Manusia bisa baik seperti malaikat tanpa kehilangan sifat-sifat buruknya, dan menjadi seperti iblis tanpa kehilangan sifat-sifat baiknya. Selalu ada baik buruk dalam diri manusia.

Kesadaran seperti itu membuat saya tidak berlebihan dalam memandang seseorang. Saya hormat kepada seseorang karena kedudukan dan perbuatannya, namun selalu dengan kesadaran bahwa kedudukan dan perbuatan bukanlah sesuatu yang permanen dan konsisten. Kedudukan bisa berakhir, perbuatan pun kadang-kadang khilaf.

Penghormatan saya tidak serta-merta berakhir ketika kedudukan seseorang berakhir atau menjadi khilaf dan tersalah. Penghormatan saya mungkin berkurang, tapi saya bisa memaklumi karena kedudukan hanyalah atribut dan khilaf adalah manusiawi.

Saya justru cenderung curiga dan tak percaya pada orang-orang yang terlalu hebat dan sempurna, orang-orang yang tampil suci dan mempertontonkan kesalehan dan kebaikannya, karena untuk saya orang seperti itu tidak ada. Saya tidak terlalu terkejut kalau suatu saat nanti, orang-orang seperti itu terbuka aibnya. Saya tidak membenci ketika itu terjadi. Saya maklum. Mereka juga manusia.

Di mata sebagian orang, saya mungkin baik, bahkan mungkin hebat. Namun di sebagian orang lain, saya bisa jadi justru jahat dan hina. Saya terima itu semua. Saya manusia; baik buruk kedua-duanya ada pada diri saya.

Karena saya tahu bahwa saya tak sempurna, saya tak mudah menghakimi orang lain. Saya tahu, pada mereka ada diri saya, dan pada diri saya ada mereka. Menghakimi orang lain, apalagi secara berlebihan, sama saja dengan menghakimi diri sendiri.

Sikap tidak menghakimi ini tidak berarti bahwa saya menerima begitu saja kezaliman, kejahatan, ketidakadilan yang dilakukan oleh sebagian orang kepada orang lain. Bagaimanapun kezaliman, kejahatan, dan ketidakadilan adalah musuh bagi kemaslahatan dan kesejahteraan kita semua. Tugas kita adalah mengoreksi, meluruskan dan mengontrolnya. Saling menasehati dan mengingatkan. Dan itu berlaku ke luar dan ke dalam, bagi orang lain, tapi juga – dan terutama – bagi diri sendiri. Ketika kita  menasehati, mengoreksi, meluluruskan dan mengontrol perilaku negatif orang lain, sebenarnya kita sedang menasehati diri sendiri karena negativitas itu ada juga pada diri kita. Kita tidak bisa merasa suci karena suci seratus persen itu bukan manusia.

Semua orang punya dua wajah: wajah yang ingin diperlihatkannya keluar dan wajah yang ingin dipendamnya sendiri, dirahasiakan dan ditutup-tutupinya dari pandangan orang-orang lain.

Kita wajib punya dua wajah itu. Kita dilarang membuka aib sendiri sebagaimana kita dilarang mengumbar aib orang lain. Ini perintah agama.

Saya manusia. Seperti manusia-manusia lain, pada diri saya ada baik dan buruk, ada dua wajah: wajah privat dan wajah publik. Kita diikat oleh kedua hal itu dalam interaksi kita dengan manusia-manusia lain, dalam tugas kita sebagai wakil Tuhan di muka bumi.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s