Hidup Sebagai Rangkaian Kertas


Karena perlu memperbarui CV, hari ini saya membongkar-bongkar folderfolder tempat saya menyimpan dokumen. Dari acara bongkar-membongkar itu, saya tersadar bahwa ternyata hidup saya tidak sedatar yang saya rasakan akhir-akhir ini. Ada banyak hal istimewa yang yang pernah terjadi dalam hidup saya: prestasi, mengakuan, capaian …

Kertas-kertas yang saya temukan di dalam folder-folder itu berbicara banyak tentang hidup saya dan membuat saya berpikir, betapa tidak bersyukurnya saya kalau saya berkata bahwa hidup saya biasa-biasa saja. Allah telah menganugerahkan banyak hal kepada saya: bakat, kemampuan, kesempatan, pengakuan.

Kalau saya merasa kekurangan atau merasa bahwa hidup saya biasa-biasa saja, mungkin karena saya kurang bersyukur atau kurang bisa memanfaatkan apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada saya.

Dokumen-dokumen itu mengingatkan saya bahwa saya telah diberi banyak, dan seharusnya bisa berbuat lebih banyak untuk orang lain. Dokumen-dokumen itu mengingatkan saya agar tidak pesimis menghadapi hidup. Bekal yang saya miliki cukup banyak. Yang perlu saya pikirkan adalah bagaimana cara menggunakan bekal itu agar hidup saya menjadi lebih berarti.

Di sisi lain, dokumen-dokumen itu juga membuat saya merenung, apakah hidup ini memang hanya rangkaian kertas-kertas itu?

Dari lahir kita mengumpulkan kertas-kertas yang mendefinisikan identitas kita: akta kelahiran, ijazah, piagam, sertifikat, surat nikah … Saat kita mati pun nanti ada kertas yang menerangkannya. Identitas kita adalah rangkaian kertas-kertas itu.

Tapi apakah kertas-kertas itu betul-betul cerminan siapa diri kita?

Bukan. Seharusnya tidak. Kertas-kertas itu semestinya hanyalah tonggak-tonggak saja, penanda-penanda saja. Kertas-kertas itu tidak bisa merekam seutuhnya kehidupan kita. Ada banyak hal kecil yang tak terekam dan tak dapat direkam oleh kertas-kertas itu: emosi kita, jatuh bangun kita, sukacita kita, dukacita kita, cinta kita, persahabatan kita, langkah-langkah kecil kita dari hari ke hari, keringat dan air mata kita, isi kepala kita, mimpi-mimpi kita dan semua yang terjadi di antara kertas satu dengan kertas lainnya tak tercatat di dalam dokumen-dokumen itu.

Namun bagi negara, birokrasi dan administrasi, kertas-kertas itu adalah segala-galanya. Kita bisa menjadi seseorang atau bukan siapa-siapa hanya karena kertas-kertas itu.

Saya perlu memperbarui CV saya karena negara, birokrasi, dan administrasi menuntut saya untuk melakukannya, agar saya tidak kehilangan status atau hak-hak saya, meskipun saya telah membuktikan melalui perkataan dan perbuatan, siapa saya, apa dan bagaimana kemampuan saya, dan seberapa sungguh-sungguh tanggungjawab dan pengabdian saya pada tugas yang dibebankan kepada saya. Mereka tidak peduli pada kisah hidup saya. Mereka hanya peduli pada kertas-kertas apa yang saya miliki dan dapat saya tunjukan kepada mereka.

Bagi negara, birokrasi, dan administrasi, hidup saya hanyalah rangkaian kertas. Pikiran, perasaan, dan perbuatan, bahkan keringat dan air mata saya, tidak punya arti apa-apa tanpa kertas-kertas itu. Saya bukan siapa-siapa tanpa kertas-kertas itu.

Bukankah hidup hanya rangkaian kertas?

Mudah-mudahan bukan.

Satu pemikiran pada “Hidup Sebagai Rangkaian Kertas

  1. Bukan hanya rangkaian kertas, pak. Rangkaian kertas tersebut memang membuat serba sulit bila dirobek, dibuang, atau hilang. Tapi rasanya makna hidup lebih dari itu.🙂 inspiratif!

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s