Jalan yang Tak Banyak Dilalui


Ingat kutipan ini kan?:

“Two roads diverged in a wood, and I—

I took the one less traveled by,

And that has made all the difference.”

Ingat juga siapa pengarangnya?

Betul, Robert Frost!

Cukup banyak orang mengenal kutipan itu, meskipun mungkin belum pernah membaca puisinya secara utuh. Apalagi menafsirkan dan menganalisisnya.

Tidak jadi soal. Kutipan itu sendiri memang menarik. Dipisahkan dari bagian-bagian lain, kalimat penutup puisi “Road Not Taken” itu justru bisa hidup dengan caranya sendiri di benak masing-masing orang yang membacanya.

Bagi kebanyakan orang, kutipan di atas dianggap sebagai dorongan untuk tidak takut berbeda, untuk bertualang dan mencoba hal-hal baru dalam hidup, untuk bereksplorasi dan menemukan, untuk merayakan individualitas dan menepis konformitas, dan hal-hal lain hal yang senada dengan itu.

Meskipun sejatinya tidak sesederhana itu keseluruhan pesan yang ada di dalam puisi itu, tafsir itu, untuk penggalan itu, pada level itu, bisa jadi tidak terlalu melenceng.

 

Bagi saya, yang menarik dari kutipan itu adalah pertanyaan soal risiko.

Orang yang mengambil jalan yang tak banyak dilalui oleh orang lain mungkin akan kesepian dan terasing, paling tidak di awal perjalanannya, sampai dia menemukan hal-hal istimewa yang menarik orang-orang lain pada jalan yang ditempuhnya. Seorang non-conformist harus kuat menanggung kesepian dan keterasingan itu, bahkan cemoohan dan cibiran mereka.

Hal lain yang menarik dari kutipan itu adalah kalimat terakhirnya, “And that has made all the difference.”

Kata“difference” bisa mengecoh. Banyak orang berasumsi atau percaya bahwa difference akan selalu merujuk pada sesuatu yang istimewa dan positif. Padahal, kita tahu,  difference bisa berarti apa saja. Ia bisa positif atau negatif. Netral. Ia adalah pondasi penciptaan makna. Makna ada karena perbedaan. Malam tak ada tanpa siang, pagi, atau sore. Hitam tak ada tanpa putih, merah, hijau dan warna-warna lain.

Kita bisa berbeda tanpa harus positif atau negatif, tanpa harus dengan sendirinya menjadi istimewa. Kita hanya berbeda, itu saja. Semua orang berbeda, semua hal berbeda, dan perbedaan adalah keniscayaan, karena tanpa perbedaan segala sesuatu menjadi tak ada, nihil, dan tak bermakna.

Jadi, apakah menjadi berbeda tanda keberanian, kemandirian dan sifat petualang?

Barangkali ya, kalau dorongan untuk menjadi berbeda itu ada sebagai bentuk resistensi atas tekanan untuk menjadi sama dan serupa, untuk menjadi konformis. Namun, jika tidak, berbeda dan perbedaan hanyalah keniscayaan. It’s the natural order of things.


Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s