‘Life Travels’


Saya suka traveling? 

Ya.

Suka menjelajah?

Ya.

Suka adventure?

Ya.

Ada buktinya?

Tentu.

Sepanjang hidup saya yang hampir setengah abad ini, bepergian, menjelajah, dan bertualang telah menjadi bagian dari warna hidup saya. Dan kalau nama dan angka bisa menjadi penandanya, daftar nama dan jumlah tempat yang pernah saya kunjungi, dan hal-hal yang pernah saya lakukan, cukup panjang. Mungkin lebih panjang dari daftar serupa yang dimiliki oleh rata-rata orang kebanyakan dari generasi saya.

Kegemaran traveling mungkin terwariskan dari ibu saya dan keluarganya. Hingga saat ini, ibu saya – yang usianya sudah di atas 70 tahun – masih gemar bepergian.

Frekuensi traveling saya sekarang mungkin tidak sebanyak dulu. Tidak bisa dipungkiri, usia banyak berperan dalam hal ini. Fisik saya tidak selincah dulu. Stamina saya juga tidak seprima dulu. Namun ada hal lain yang secara mendasar juga saya rasakan berubah dalam diri saya seiring pertambahan usia: saya tidak lagi menyukai crowds, hingarbingar, dan segala hal yang berbau hura-hura. I have become more inward looking, reflective. Mungkin itu bawaan asli saya yang sempat terkubur oleh semangat usia muda yang cenderung outward looking dan menyukai hal-hal yang ‘ramai’.

Sifat reflektif itu mungkin saya warisi dari ayah saya yang cenderung pendiam dan esensialis sikap hidupnya. Hidupnya sangat sederhana.

Beliau tidak suka bepergian. Semasa hidupnya, beliau juga tidak memiliki banyak keinginan kecuali pada hal-hal yang beliau anggap penting dan esensial seperti ibadah dan keluarga.  Salah seorang paman saya – kakak bapak – bahkan menggambarkan adiknya itu “seperti kain tanpa corak.” Polos, lurus. Tapi di balik itu, saya yakin beliau adalah orang yang sangat reflektif. Sepi di luar, ramai di dalam.

Mungkin seperti itulah saya sekarang. Bahkan ketika bepergian, saya lebih banyak merenung daripada terlibat dengan apa yang ada di luar diri saya. Pemandangan, kejadian, dan pengalaman bagi saya hanyalah cermin yang membantu saya berpikir dan merenung di dalam. Oleh karena itulah mungkin saya jadi tidak suka keramaian dan hingar-bingar karena keramaian dan hingar-bingar membuat akal dan nurani saya tumpul, pekak dan tuli. Keramaian dan hingar-bingar di luar membisukan wicara dan dialog di dalam.

Maka, ketika bepergian pun, sekarang saya memilih tempat-tempat yang tenang, yang jauh dari hiruk pikuk dan keramaian. Perjalanan lebih menarik daripada tujuannya, karena perjalanan memberi saya kesempatan untuk berpikir dan merenung, untuk sendiri, menyendiri, dan mengakrabi pikiran-pikiran dan perasaan.

Di tempat tujuan pun, saya kadang-kadang saya hanya duduk, membaca, atau berjalan-jalan. Memotret atau berbincang-bincang dengan orang-orang yang kebetulan saya temui.

Hidup adalah perjalanan. Di usia sekarang ini, tujuan semakin dekat. Tak lama lagi saya akan tiba di akhir perjalanan. Mungkin karena itulah saya mulai banyak menengok ke belakang, merenung dan menilai apa yang telah saya lalui dan dapatkan dari perjalanan itu. Mungkin karena itulah dalam setiap perjalanan yang saya lakukan sekarang, saya lebih menyukai tempat-tempat yang tenang dan memungkinkan saya untuk berdialog dengan diri saya sendiri – persis seperti tahapan hidup yang sedang saya lalui.

Satu pemikiran pada “‘Life Travels’

  1. Semakin tambah umur, saya juga semakin kurang suka keramaian (mungkin karena personality saya juga yang introvert). Saya jarang traveling, tapi kalau ada kesempatan saya suka sekali jalan ke kampung halaman ayah saya di Pangalengan, terutama di area kerja pembangkit listrik tenaga panas bumi. Di sana sepi, jarang dilalui orang. And the best thing is, when there’s no crowd, you can listen to the sound of nature and if you’re lucky to yourself, to your thought. A perfect setting to contemplate and do some introspection. Tulisan Bapak ini mengingatkan saya pada kutipan dari penulis favorit saya, Rebecca Solnit, yang bunyinya: “Sometimes you travel so that the process of becoming that is your inner life has an external correlatove in your movement across space.”
    Saya rasa apa yang Bapak tulis di sini is what travel is all about.🙂

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s