Anak Rumahan


“Anak rumahan” punya konotasi yang manis: penurut, terkendali, sopan, terdidik, dan hormat pada orang tua. Anak rumahan lebih banyak tinggal di rumah daripada keluyuran. Itu persepsi orang pada umumnya.

Tapi tinggal di rumah berkepanjangan bisa jadi kurang baik juga. Orang yang terlalu sering mengurung diri di rumah bisa jadi memiliki masalah kepribadian dan sosial: kurang percaya diri, kurang bisa bergaul, kesepian, bahkan mungkin depresi.

Manusia tidak diciptakan untuk menyendiri, apalagi mengurung diri berkepanjangan. Bergaul, berteman, keluar dan menjelajah adalah kebutuhan yang barangkali sama pentingnya dengan kebutuhan untuk menyendiri. 

Keseimbangan adalah kata kuncinya. Kadang-kadang kita memang butuh menyendiri dan tak ingin diganggu oleh orang-orang lain. Namun, sebagai makhluk sosial, kita juga butuh bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang lain. Kita butuh dihargai, didengar, dan merasa dibutuhkan oleh orang-orang lain.

Kepribadian yang sehat tumbuh karena interaksi dengan orang-orang lain, karena merasakan kepuasan dan kekecewaan, karena tarik ulur yang terjadi dalam proses interaksi itu.Tanpa itu, orang akan cenderung menjadi egosentris dan tak bisa mengukur nilai dan posisi diri.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s