Menulis Sastra


Menulis sastra itu hanya untuk orang-orang yang peka saja. Orang-orang yang perasaannya tidak tumpul atau telah ditumpulkan oleh logika atau bermacam-macam perkara yang merusak kepekaannya pada rasa, pada sesama, pada semesta. Orang-orang yang selalu terbuka menerima setiap pengalaman yang menerpanya. Begitu.

Menjaga kepekaan seperti itu tidaklah mudah. Ketika kau belajar di sekolah, tentang perkara-perkara logika, sistematika, metoda dan dituntut untuk runtut berpikir mengikuti alur-alur yang telah dibuat dan dipastikan, kamu akan dibuat lupa pada suara-suaramu sendiri. Pada rasamu sendiri. Pada ‘keliaranmu’ sendiri yang mentah. Pada reaksi batinmu yang spontan atas peristiwa-peristiwa, orang-orang, dan semesta yang sesungguhnya, dan setiap saat, sedang berbicara denganmu – seperti dua noktah yang terhubung sejak semesta menjelma. Langkahmu kini menjadi seperti langkah-langkah baris-berbaris tentara yang dikomandoi oleh komandan, aturan, dan keseragaman. Kau tak lagi bisa menari – ya menari – mengikuti irama musik semesta yang terpantul ke dalam batinmu.

Menjaga kepekaan seperti itu tidaklah mudah. Ketika duniamu bukan milikmu lagi, karena pandangan dan pendengaranmu telah dilingkupi oleh ingar-bingar Internet, televisi, dan segala media yang meneriakkan segala macam sampah ke dalam telingamu hingga rasa dan batinmu sendiri terbungkam, terhalang dari interaksi murni dengan sesama dan semesta. Kepekaanmu menjadi tumpul karena antara batinmu dan dunia ada tirai ingar-bingar yang memekakkan.

Menjaga kepekaan seperti itu tidaklah mudah jika kau tak lagi terbuka, sebagian pintumu kau tutup, sebagian lagi kau buka karena alasan suka tak suka, alasan menyalahkan dan membela. Kau membenci golongan itu karena kau membela golongan itu.

Suka tak suka tentu boleh saja. Menyalahkan dan membela pun sah-sah saja. Tapi jika kau menutup sebagian pintumu, dan membiarkan sebagiannya lagi tetap terbuka, maka kau tak bisa lagi berdiri tegak di tengah-tengah neraca semesta yang menimbang segala bentuk pengalaman dan rasa dengan semurni-murninya, seadil-adilnya. Ketika merah kau bilang hijau, ketika hitam kau bilang putih, maka sesungguhnya kau tengah membungkam sendiri batinmu, rasamu, kepekaanmu pada kebertimbangan semesta yang sempurna.

Menjaga kepekaan seperti itu tidaklah mudah jika kau rakus pada dunia. Jika kau jumawa dan ingin menguasai dunia, menundukkannya di bawah kaki-kakimu; jika kau ingin mengumpulkan harta dan melambungkan dirimu sendiri dan jika kau berkata: aku, aku, dan aku di atas kita; jika kau tak lagi tergerak oleh penderitaan sesama dan kerusakan tatanan semesta.

Begitulah. Menulis sastra memang hanya untuk mereka yang peka saja. Untuk mereka yang dapat menjaga kepekaan itu dengan membuka yang di dalam pada yang di luar, yang di luar pada yang di dalam. Yang melihat, mendengar, menyapa dan mengulurkan tangan dengan tulus.

Iklan

2 pemikiran pada “Menulis Sastra

  1. Menjaga kepekaan seperti itu tidak mudah. Tetapi jika kami berdiam diri dan berhenti berdialektika, menghindari logika dan menolak ingar bingar yang sedang terjadi maka kami mati dan tidak bisa menimbang bagaimana kami harus berbicara. Kami tidak memiliki semua yang harus ada untuk menulis sastra. Kami adalah hati yang terdiam, mata yang terpejam dan bibir yang terbungkam. Hanya pikiran kami yang hidup sedang logika, dialektika dan ingar-bingar ilusi adalah makanan dan sumber energi bagi pikiran kami.
    Salam kenal dari kami.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s