Bukankah Kematian Itu Mengasyikkan?


Bukankah kematian itu mengasyikkan?

Bayangkan, ia menghadapkanmu pada suatu pintu yang akan menyampaikanmu  pada dunia yang tak kau kenal; dunia yang selama ini hanya ada di dalam angan-angan, bayangan, dan kisah-kisah yang disampaikan kepadamu.

Bukankah itu mengasyikkan?

Kematian membukakan pintu misteri, memberimu kesempatan untuk membuktikan dan melihat dengan mata kepalamu sendiri hal-hal yang selama ini terhijab dari penglihatanmu.

Bukankah itu mengasyikkan?

Kematian menutup pintu dari dan ke masa lalu yang, meskipun asyik dan melenakan, dipenuhi oleh gelombang duka dan pusaran kefanaan yang merenggut orang-orang yang kau cintai, dan merenggut masa mudamu, keperkasaanmu, kecantikanmu, kegantenganmu, keceriaanmu, dan dengan serta-merta (tanpa izinmu) menggantikannya dengan kerentaan yang lemah, kusut dan penyakitan.

Bukankah itu mengasyikkan?

Tak lagi kau harus berhadapan dengan segala keterbatasan yang mengekangmu. Kini kau bisa hidup abadi, tak perlu lagi menua, menjadi sakit, dan menanggung derita yang dibebankan dunia di atas kepala dan pundakmu. Tak lagi kau harus kehilangan atau merasa kehilangan karena kau merasa memiliki dan ingin memiliki. Kematian mengakhiri segala gagasan tentang milik dan kepemilikan yang membelenggu kebebasanmu.

Bukankah itu mengasyikkan?

Kematian membukakan pintu ke keabadian, keluasan, dan ketakterbatasan. Kau tak lagi dikekang oleh jasadmu dan oleh jasad dunia yang rapuh dan fana.

Bukankah itu mengasyikkan?

Ingatkah engkau ke masa kecilmu dulu, ketika ayahmu tiba-tiba bilang esok dia akan mengajakmu berpesiar ke gunung, ke laut, ke kota lain, atau ke negeri lain yang selama itu hanya kau tahu dari dongeng-dongeng dan kisah-kisah di buku-buku, gambar-gambar di kalendar, dan buah tangan dari orang-orang yang telah ke sana dan kembali?

Betapa girangnya hatimu. Betapa berbunga-bunganya perasaamu menatikan esok hari. Tak dapat kau pejamkan matamu. Tak sabar kau menantikan hari berganti, hingga detik-detik jarum jam pun kau hitung dan kau sumpahi karena tak cukup cepat berlari.

Bukankah itu mengasyikkan?

Seasyik itulah seharusnya penantian akan kematian. Segirang itulah seharusnya perasaanmu menyambut kedatangannya, karena ialah pelayanan agung yang akan membukakan pintu ke keabadian, pramuwisata agung yang akan menemanimu berpesiar ke tempat-tempat yang belum pernah kau kunjungi.

Seasyik itulah seharusnya penantian akan kematian, karena ialah yang akan segera mempertemukanmu kembali dengan orang-orang yang kau cintai, mempertemukanmu dengan dirimu yang sejati dan segala perbuatanmu di dunia ini.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s