Salah Rumah, Salah Kota, Salah Negara

Setiap kali keluar rumah, saya selalu dihantui kekhawatiran tentang suasana jalan raya yang chaos, kacau balau.

Di perumahan, yang dulu cukup tenang, sekarang ramai tak beraturan. Sejak dibukanya supermarket di kompleks, ekonomi jadi maju. Warung-warung kaki lima berderet-deret menempel di tembok pagar supermarket. Jalan yang memang tidak terlalu lebar, kini sebagian dipakai untuk parkir mobil dan motor pengunjung dan pembeli warung. Rumah-rumah di pertigaan dekat supermarket dialihfungsikan menjadi toko, restoran dan warung. Jalanan menjadi macet, bahkan sebelum keluar ke jalan raya. 

Kekacauan juga terjadi di pertokoan di dalam kompleks. Halaman toko, yang sebenarnya dirancang sebagai tempat parkir, diblok oleh pemilik toko, diberi atap bahkan dibangun menjadi perluasan tempat usaha mereka. Akibatnya, kendaraan dipaksa parkir di tepi jalan sehingga menambah sempit jalan, yang sebagian juga sudah dimanfaatkan sebagai lahan berjualan oleh para pedagang kaki lima. 

Di dekat pintu gerbang, taman kiri kanan jalan juga dirambah oleh pedagang kaki lima. Ada yang dengan sengaja membetonnya agar mereka bisa mendirikan tenda untuk berjualan makanan. Ada juga membobol tembok di kiri kanan gerbang untuk membuat jalan agar rumah kampung yang semestinya berada di luar kompleks dan tidak punya akses langsung ke jalan bisa mengakses jalan kompleks dan berada di tepi jalan. Sungguh kacau. Orang tidak tahu lagi mana yang hak dan yang tidak hak. Semua itu karena tidak ada konsep tata ruang yang jelas dan tidak ada penegakan hukum yang pasti tentang siapa yang punya hak apa. Orang bisa menjarah dan mengambil hak orang lain (publik) tanpa dikenai sanksi atau hukuman.

Di jalan raya dan di kota keadaan sama parahnya. Sebagian besar jalan kita tidak punya trotoar. Tidak ada tempat untuk pejalan kaki. Semua orang dipaksa berkendara di jalan-jalan yang padat dan tak beraturan. Sungguh sangat menyedihkan.

Karena padatnya jalanan, kurangnya fasilitas dan ketiadaan penegakan hukum, orang- orang dipaksa berlomba di belantara urban tanpa aturan. Siapa yang berani, siapa yang kuat dan tak tahu malu, dialah yang berkuasa. Semua dipaksa mengembangkan sikap aku dulu dan tak peduli pada sesama.

Pengendara motor dan mobil bisa keluar dari gang tanpa berhenti dulu bahkan dengan kecepatan penuh langsung masuk ke jalan utama. Mereka bahkan tak segan-segan mengambil lajur jalan yang berlawanan agar bisa lancar, tak peduli  apakah kelancarannya mengganggu dan membahayakan orang lain, dan dirinya sendiri. 

Kita tak bisa menyalahkan mereka juga. Perilaku mereka adalah tuntutan lingkungan – struktur tak tampak – yang mengendalikan sikap dan perilaku mereka. Imbauan dan rayuan untuk berperilaku tertib di jalan raya hanya lelucon konyol yang tak berpengaruh apa-apa karena tuntutan lingkungan lebih kuat pengaruhnya ketimbang kesadaran agency pribadi. Untuk tertib, orang perlu struktur yang menertibkan (desain kota dan infrastruktur, fasilitas, dan penegakan hukum yang konsisten).

Ketika kota menjadi lingkungan yang mengungkung dan menyesakkan, setiap kesempatan untuk bebas menjadi seperti ruang ekspresi yang tak terkendali. Persis seperti air terbendung yang tiba-tiba dilepas oleh bendungan yang pecah. Gejala itu terlihat di tempat-tempat dan waktu-waktu tertentu. Di jalan tol atau di malam Minggu, misalnya.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa jalan-jalan tol kita kadang-kadang menjadi seperti arena balap liar. Para pemilik mobil yang di dalam kota tak bisa leluasa memacu mobilnya dengan kecepatan wajar, melampiaskannya di tol dengan sepenuh-penuh kecepatan untuk mendapatkan kenikmatan berkendara yang selama ini terampas di dalam kota. Rambu-rambu batas kecepatan lagi-lagi hanya menjadi lelucon konyol, benda mati yang tak dipedulikan keberadaannya.

Bagi para pengendara sepeda motor, yang tidak bisa masuk ke jalan tol, pelampiasan itu mereka lakukan di malam hari, di malam minggu atau hari libur, atau di luar kota, secara sendiri-sendiri atau dengan geng dan konvoi. Malam Minggu atau malam liburan adalah malam yang mengerikan untuk berkendara. Banyak pengendara sepeda motor yang dengan sengaja kebut-kebutan, seringkali dengan geng yang convoy leader-nya menggunakan senter merah dan klakson untuk menghalau pengendara lain agar memberikan jalan bagi gengnya. Efektivitas cara mereka ini bahkan lebih efektif dari sirene ambulan yang raungannya seringkali tak dipedulikan oleh para pengguna jalan. Tak peduli apakah di dalam ambulan itu ada orang yang hampir mati, di kemacetan jalan raya, para pengendara tak mau memberikan jalan untuk ambulans itu. Tak peduli pasien mau mampus, yang penting aku dulu. Sungguh mengerikan. Bagaimana kalau pasien di ambulan itu mereka sendiri atau keluarga mereka? Savage, biadab.

Apakah saya tinggal di (per)rumah(an) yang salah hingga saya punya kekhawatiran seperti itu? Atau saya salah pilih kota, karena di kota-kota lain tidak seperti itu? Atau jangan-jangan saya tinggal di negara yang salah? Atau ini salah negara yang abai pada kewajibannya untuk mengatur (govern)?

Mungkin akan ada orang-orang yang berkata, kalau tidak suka tinggal di perumahan itu pindah saja. Kalau tidak suka tinggal di kota ini, pindah saja. Atau, kalau tidak suka tinggal di negara ini, pindah saja.

Masalahnya bukan suka tidak suka. Rumah ini aku beli dengan cucuran keringat bertahun-tahun; kota ini sudah menjadi tempat tinggal saya hampir sepanjang hidup saya; dan negara ini adalah tanah tumpah darah saya. 

Saya pernah tinggal di rumah lain, kota lain, di negara lain. Dan meskipun tempat itu indah, tertib dan nyaman, hati saya tetaplah berada di tanah tumpah darah saya. Saya juga ingin rumah, kota, dan negara saya tertib dan nyaman.

Iklan